21 Juli, 2008 pada 9:45 am (puisi-puisi qavad)
Lihatlah aku tunas yang baru berkembang
Aku generasi pilihan untuk tanah tumpah darah
Kusongsong hari demi hari
Demi bangkitnya pertiwi
Aku bukan pembangkang yang tak tahu diri
Inilah Indonesiaku
Inilah macan yang belum terbangun
Garuda itu menatapku
Aku dan gedung pencakar langitku
Bagi jiwa yang baru saja mengerti
Aku telah menyaksikan jutaan kelaparan
Aku tak menutup mata atas kesengsaraan
Bagimu dengan semangat baru
Aku ini kecil sekecil kutu
Suaraku hilang ditelan para hartawan
Tapi hatiku setangguh raja siang
Kutangguhkan hatiku untuk menjunjung namamu
Kutanamkan hatiku dengan rasa persatuan
Demi pagi takkan ada kelaparan
Demi siang takkan ada kesenjangan
Demi malam takkan ada keresahan
Demi Indonesia yang sejahtera
Comments
19 Juli, 2008 pada 3:48 pm (komat-kamit)
Setelah saya memublikasikan Jangan Ada Malam Semu, saya menyempatkan diri untuk blog walking. Saya menemukan tulisan yang menarik di blog ini. Membahas mengenai puisi. Sebuah tulisan yang sangat bagus. Tulisan tersebut menyertakan butir-butir yang layak untuk direnungkan sebagai introspeksi diri:
- Perjalanan perpuisian Indonesia sejak abad ke-20, sejak ia mencoba lepas dari tradisi lisan, sesungguhnya tak pernah benar-benar bergerak sebagai sebuah disiplin yang membina dasar-dasarnya sendiri secara kukuh.
- Hukum tertinggi yang dipeluk erat-erat dan tak dapat diganggu-gugat adalah licentia poetica: hak mutlak penyair untuk menggunakan bahasa sebebas-bebasnya, termasuk menyimpang dari tata pembentukan kata atau kalimat yang lazim bila perlu.
- Bergantung pada gairah dan bakat (maupun kenaifan) masing-masing penyair, puisi menjadi semacam lahan bebas (bahkan liar) yang tak menyediakan perangkat khusus yang jelas dan memadai menyangkut penciptaannya.
- Puisi Indonesia berjalan hampir tanpa mengenal prosodi, misalnya disiplin yang mendalami anatomi puisi menurut metrum, ritme, rima itu.
- Ketiadaan pendalaman atas anatomi puisi, bisa dilihat sebagai hikmah yang mungkin menyelamatkan penyair dari kesibukan berlebih terhadap tetek-bengek yang terlalu teknis dalam merangkai karya.
- Semenjak sajak bebas muncul pada abad ke-19, metrum menjadi sesuatu yang tampak kian mengekang dan merepotkan dan karenanya disingkiri jauh-jauh.
- Tanpa metrum, sajak bebas seharusnya melahirkan musiknya sendiri-sendiri. Sajak-sajak bebas yang unggul telah membuktikan hal itu.
- Tapi tanpa metrum, sajak bebas juga kemungkinan bisa celaka akibat miskinnya latar pemahaman dan penguasaan akan kompleksitas puisi, dan yang lahir adalah sajak yang tak mempertimbangkan kekuatan setiap unsurnya sebagai pembangun sebuah komposisi yang mantap.
- Puisi yang tak memiliki kesadaran bentuk yang memadai, dan hanya meluncur ringan tanpa beban (selain beban pesan), tapi juga tanpa kekokohan, hanya gairah yang menggebu-gebu tapi bisa tanpa arah.
Ya, saya setuju dengan semua butir tersebut. Sekadar menambahkan opini, puisi bukanlah sebuah bentuk terikat yang bersandat pada teknis. Siapapun bebas menciptanya. Ia bebas, liar, bertumbuh, makan dari apapun, takkan berteduh walau hujan, akan tetap berlari walau panas. Jangan kurung ia dengan kotak. Jangan paksa letakkan di atas tatak. Ia kini tertidur di Indonesia.. Kamukah orang yang akan membangunkannya?
4 Comments
19 Juli, 2008 pada 3:24 pm (Puisi-puisi saya)
|
|
|
|
Pagi hari
Embun menguap
Bulu mata basah
Bertebaran di tanah
Siluet-siluet mulut jadi nyata
Bertebaran di meja
Ah..
Sungguh bulu mata dan mulut yang tlah lelah
Bahkan untuk sekadar ingat bagaimana bahasa
Betapa aku masih kecil untuk dunia
Aku masih rapuh tuk bertanya
Aku masih lemah tuk meraba
Tapi sungguh malam berkata
“
Hei, tahukah kamu akan Indonesia?
Ya, betapa suatu hari aku akan pergi
Membawa serta kemuraman dan tikus yang keji
Sungguh matahari akan terbit
Tak ada malam yang abadi
Memang bukan sebentar lagi
Lihatlah mata hati generasi kini
Sungguh tertutupi..
Bagaimanakah kalian akan melihat terang walau aku pergi?
Bukalah kain hitam di matamu dulu
Indonesia sungguh kaya untuk miskin dan terhina
Tak cukup kata untuk terucap
Berdoalah
Maka akan mengerti
“
Dan malam pun menyendiri lagi
Sperti biasa
Masih saja ada teka-teki
Tapi tekadku kini menjadi
Takkan behenti kutulis puisi
Inilah caraku
Akan ku kabarkan siaran malam agar saling memahami
Berharap jadi melodi |
|
 |
Get more frame on BlogFrames
3 Comments
12 Juli, 2008 pada 9:35 am (puisi-puisi qavad)
Getir-getir hati
Diam-diam aku menyukaimu
Hati berbisik pelan-pelan
Tapi tetap aku acuhkan
Sepi menjadi ramai
Ramai menjadi sepi
Aku berada dimana?
Dunia tanda tanya
Aku terlalu banyak bertanya
”apa itu cinta?”
”bagaimana itu cinta?”
”benarkah itu cinta?”
Pertanyaan itu sibuk sendiri
Berputar-putar…
Berlarian…
Saling berebut jawaban
Kau tersenyum
Aku ingin benturkan kepalaku
Mengapa aku tak bergeming?
Akiu hanya bertanya hal yang sama
Berulang-ulang…
Dan aku pusing sendiri
Dengarkan selagi aku merasa tenang
Ada gejolak…
Menangis…
Teriak…
Berlompatan…
Tak karuan…
Mengharapkanmu…
Mengharapkanmu…
Pertanyaan itu kembali berputar-putar
Aku ingin mengasingkan diri
Pertanyaan itu…
”apa itu cinta?”
”bagaimana itu cinta?”
”benarkah itu cinta?”
”Aargghh…!!!”
n.e. (someone who lives in this poem)
2 Comments
7 Juli, 2008 pada 5:45 am (puisi-puisi qavad)
Kanvas itu tergeletak begitu saja
Ada seulas warna indah
Hijau, biru, merah
Berbaur dengan ceria
Seolah ada kesempurnaan yang ditemukan
Seperti mimpi yang ditemui di kenyataan
Ada guratan hitam berhamburan
Bercak merah dan kelabu tak beraturan
Ada luka yang berusaha tersenyum
Goresan yang ingin merobek warna itu
Namun goresan itu tak ada yang menyentuh satupun warna
Hanya sedikit sebagai penegas tanda suatu kebencian
Tapi tak pernah berani mengutarakan
Kanvas itu tergeletak sendiri
Hanya aku yang menatapnya sedih
Apa yang aku lakukan dengan kanvas itu?
Padahal dulu ia begitu putih dan hanya ada warna cerah
Apa yang aku lakukan pada kanvas itu?
Seolah tak percaya kanvas itu adalah gambaran hatiku
Dan tak ada yang percaya siapa warna indah itu
Suara hati terdengar begitu parau
Memanggil namamu sebagai warna indah itu
Apa yang harus kuperbuat pada hatiku?
Aku hanya menatap kembali kanvas itu
Inikah kenyataan saat kumendambakanmu?
Tak pernah kukira sejauh ini jadinya
Sesungguhnya aku tak pantas lagi menaruhmu
Namun aku enggan mengganti warnamu yang tertuang di kanvasku
Tak ada yang mampu menandingi perasaan itu
Jika kau terpanggil lewat mimpimu malam ini
Jika aku hadir di sana dan memberimu ruang di hati
Kumohon kau hadir kembali
Jadilah warna cerah di kanvasku
Biarkan hitam itu pudar sendiri
Kumohon jadilah kau sebagai kekasih
Dan kanvas itu takkan ternilai lagi
Dan sakit hatiku tak akan kuingat lagi
1 Comments
5 Juli, 2008 pada 7:45 am (puisi-puisi qavad)
Kita tak pernah diajarkan bagaimana memberikan kasih
Kita terlahir dan mendekap saling terpisah
Kita tak mengerti apa itu suatu suratan
Kita hanya membiarkan semuanya mengalir
Kau adalah sosok yang tidak sempurna
Dan aku pun tak pernah sempurna
Kita saling mengisi celah ketidaksempurnaan
Saling menjaga tiap-tiap kekurangan
Kita saling menguatkan
Kau coba mengerti aku
Begitu pun aku padamu
Kita sahabat di dalam satu rasa
Kita hidup bersama menghadapi dunia
Genggamlah tanganku untuk melangkah lebih maju
Bersama dalam makna sahabat yang seutuhnya
Ku butuh dirimu lebih dari sekedar bicara
Kita kan bersama menggenggam dunia
1 Comments
2 Juli, 2008 pada 3:51 pm (Puisi-puisi saya)
|
|
|
|
|
|
|
|
Dan sampai senja ini aku bermimpi
Mimpi akan datangnya semburat jingga
Menghiasi ruangan kecil di pojok gudangKebisingan waktu membuatku sengsara
Pitaku berontak
Ingin melengking tinggi
Berteriak tanpa menjerit
Tersenyum tanpa ekspresi
Melebur dalam kehangatan
Membeku dalam kesunyian
Akan kukejar bayangan itu sampai nanti
Kuharap siluet itu takkan pergi
Kumohon, tetaplah di sini..
Aku tak berani..
Karena ku tak berani melukis mimpi
Ku takut takkan jadi indah
Imajiku mungkin masih dini tuk dilahirkan
Kau adalah tiga huruf
Ketika aku merasa
Andai aku ksatria
Ucapan ini tentu takkan cuma sekedar kata mati
Sungguh ku berharap
Keberanianku merah sperti planet mars
Secuek pluto
Sedingin sambaran petir
Kata kunang-kunang
Aku adalah anomali
Yang aneh namun tetap indah
Aku anomali
Yang ketika ku redup
Terangku akan muncul
Aku anomali
Yang hanya bisa mereguk sunyi dalam bising
Hanya berani merangkai kata di balik hutan
Aku menepis
Bukankah segala sesuatu diciptakan berpasangan?
Karena ada benci maka ada cinta
Ada buruk maka ada baik
Apa itu anomali?
Apa itu aneh?
Apa itu benar dan apa itu salah?
Semuanya relatif!
Semuanya saling melengkapi
Demikian juga keganjilan
Melengkapi hal yang ganjil menjadi genap
Jadi bukan salahku jika aku menjadi potongan yang tak lengkap
Bukan salahku juga jika aku tak bisa seberani ksatria
Karena memang harus begitu..
Paling tidak, aku rela jadi sperti itu
Sampai nanti
Saat para pemberani menjadi pengecut
Maka akan ada pengecut yang akan jadi pemberani
Mungkin itu yang kan terjadi
PS: For a faithful secret admirer around the world |
|
|
2 Comments
29 Juni, 2008 pada 4:21 pm (komat-kamit)
Entah kenapa
Mendung ini terasa menggangu
Kali ini tak buatku termangu
Sedetik abu-abu
Kemudian jadi biru
Bagai perpaduan kelu dan semu
Menari tak jemu
Menari untuk satu
Satu rasa
Satu jiwa
Satu kata
Lalu aku berdiri
Mengamati
Memahami
Mengagumi
Dan beranjak pergi
Bukankah hidup lebih dari puisi?
Lebih dari arti
Jadi mengapa kita harus bernyanyi?
Huh, menghibur diri
Tak ada yang tau pasti
Hanya satu hal yang ku mengerti
Nada minor adalah variasi mayor
3 Comments
25 Juni, 2008 pada 11:37 am (Puisi-puisi saya)
Di hari yang tua dan kelabu nanti
Mungkin akan juga kau sadari
Derik tak pernah sepi..
Hanya perlu menanti
Namun tak juga hanya mengamati
Pasti..
Tidakkah kau dengar?
Perlu ku ulangi?
Pasti..
Resapi dan sadari
Bahkan elektron pun berpasangan bukan?
Jadi mengapa harus tertekan?
Mengapa harus ditahan?
Luapkan!
Jangan pernah takut akan kenangan!
Jangan takut dihempas!
Karena inilah hidup
Tiap kulit pasti terkelupas..
Sepi
Sepi
Sepi
Ah, hanya itu?
Mungkin..
PS:
buni met ultah.. 
Maaf cuma bisa buat yang beginian untuk buni. Just wanna cheer you up bun..
Hope you like it
^_^
3 Comments
17 Juni, 2008 pada 2:56 pm (Puisi-puisi saya)
Kemarin
Saat awan-awan terbingkai bersama
Tahukah kamu ?
Lekuk wajahmu ada di sana
Semilir angin berbau aroma rambutmu
Gemerisik daun seperti bisikanmu
Baru ku mengerti
Ada ruang kosong yang tak kuharap tak ada
Absensi dirimu
Buat ku menyukai batu
Aku terdiam
Membiarkan malam
Bersenandung dalam keheningan
Mendengar tiap tetes air malam
Menutup mata
Memberi tempat untuk imaji
Lukisan terindah yang pernah aku miliki
Kamu
Warna pastel untuk hariku
Senyumanmu
Mentari indah yang rela terspesialisasi dalam gelapku
Dekapanmu
Mendengar teriakanku yang terpaksa bisu
Cintamu
Ajarku mengerti arti penting ketidaksempurnaan
Biarkan aku menghapus air matamu..
Mendekapmu dalam keterbatasan
Dan ijinkan aku berbisik di telingamu
Aku sayang kamu tanpa harga
Beritahu aku saat lelah dan udara tak lagi bersahabat
Aku akan datang membawa sekotak nafasku tuk jadi nafasmu
Tenagaku untuk mengisi isakmu
Menopangmu..
Dengarlah
Yang ku ingin hanya satu
Untaian nadamu sampai senja dan aku terlelap
staccato
-jeda-
1 Comments